KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja :
1. Berlimpahya rangsangan seksual, kerenggangan hubungan keluarga
2. nilai budaya, lemahnya iman dan keagamaan (Sarwono, 1987; Rihni, 1991)
3. Biologis, kematangan seksual pada usia yang lebih muda (Colton, 1970)
4. Kurangnya pendidikan seks pada remaja sehingga buta terhadap masalah seks (Sarwono, 1987)
5. Tersedianya alat-alat kontrasepsi (Colton, 1991)

Pengetahuan dan Sikap :
Menurut Survey Majalah Femina di Jakarta dengan responde pelajar SLTP dan SLTA menunjukkan bahwa hanya: 10% pelajar putra dan 20% pelajar putri yang mendapatkan informasi kesehatan reproduksi dari orang tua. 50% dari teman sebaya dan 60% dari media massa.

Penelitian Dr. Alphinus Kambodji di Surabaya dengan responden 297 siswa SLTP menemukan bahwa sebenarnya remaja sangat membutuhkan informasi ini (57,32% putra dan 54,28% putri) dan membutuhkan seseorang untuk melampiaskan dorongan seks (12,1% putra dan 3,57% putri).

Tapi kenyataan menunjukkan bahwa kebutuhan informasi ini tidak didukung oleh cara bagaimana mereka harus bicara tentang seks dengan orang tua (91,71% putra dan 56,42% putri), akibatnya mereka mendapatkan informasi ini bukan dari orang tua (91,08% putra dan 65% putri). Mereka mengaku melihat film biru (43,94% putra dan 15% putri) dan pernah melihat kartu porno (26,75% putra dan 13,57% putri).

Berdasarkan hasil polling Jawa Pos terhadap 420 warga Surabaya yang berusia 12-27 menunjukkan bahwa 126 responden (30%) menilai film porno yang beredar biasa saja untuk ditonton dan 294 menyatakan tidak baik karena merusak generasi muda.

Anehnya, dari yang menyatakan tidak baik ditonton, ada sekitar 7% ikut menikmatinya. Secara keseluruhan responden yang pernah menonton ada sebesar 35,2%.

Yang menarik dari temuan ini adalah bahwa ada sekitar 23% dari responden wanita menyatakan film porno merupakan hal yang biasa. Frekuensinya 63,5% menonton 1-3 kali dalam sebulan terakhir, dan hanya 10,1% yang tidak menonton dalam sebulan terakhir. Yang menonton lebih dari 6 kali sebanyak 11,5% dan 4-6 kali sebesar 14,9%

Penelitian Lutfi Agus Salim dengan responden remaja jalanan di Surabaya menunjukkan bahwa membolehkan hubungan seksual :
jika saling mencintai (20%),
jika sudah merencanakan pernikahan (28%)
jika sudah dilamar (44%).

Penelitian Soeroyo terhadap 750 responden berusia 10-19 tahun menunjukkan bahwa 87,9% remaja putri dan 72,8 % remaja putra pernah mendengar istilah ‘menstruasi’ dan ‘mimpi basah’, namun hanya 46,3% remaja putri dan 53,7% remaja putra yang tahu makna kata tersebut

Sikap remaja terhadap perilaku seksualnya telah diteliti oleh Ramly Bandy dengan hasil 60,2% tidak setuju hubungan seksual sebelum menikah, 70,1% tidak setuju hamil sebelum menikah, 66,6% tidak setuju dilakukan aborsi dan 75,9% tidak setuju alat kontrasepsi.

Jika belum siap …
1. Hindari segala sesuatu yang dapat merangsang timbulnya nafsu birahi. Krn nafsu birahi ini dialami oleh remaja yang sehat.
2. Kegagalan mengendalikan nafsu birahi dapat berakibat KEHAMILAN

DATING RAPE (PERKOSAAN SAAT KENCAN)
Merupakan bagian dari Seductive Rape “perkosaan karena dorongan situasi merangsang yang diciptakan kedua belah pihak. Pada mulanya korban memutuskan untuk membatasi keintiman personal, dan sampai batas-batas tertentu bersikap permissive (membolehkan) perilaku pelaku asalkan tidak sampai melakukan hubungan seksual. Namun karena pelaku beranggapan bahwa perempuan umumnya membutuhkan paksaan dan tanpa itu dia merasa gagal, maka terjadilah perkosaan”

Faktor Penyebab Dating Rape :
1.Pada saat kencan terjadi situasi yang merangsang, sehingga meskipun sebelumnya tidak ada niat si laki-laki untuk memperkosa si wanita. Namun dengan adanya situasi merangsang dan ditunjang dorongan seksual yang tidak bisa dikendalikan maka terjadilah dating rape.
2.Adanya kesalahpahaman laki-laki tentang keintiman secara jasmaniah yang disetujui pasangannya atau karena ia dengan sengaja memanfaatkan situasi dan rasa percaya diri pasangannya untuk menyerahkan diri kepadanya.
3. Adanya anggapan bahwa wanita itu harus dipaksa dalam melakukan aktivitas seksual. Sehingga meskipun pada saat diajak secara baik-baik tidak mau, tetapi kalau dipaksa sebenarnya si wanita justru menikmatinya.
4.Adanya niat jelek dari si laki-laki jauh sebelum terjadi pemerkosaan. Dengan berbagai tehnik dan cara si laki-laki akan menciptakan suasana yang mengarah pada keadaan dimana antar keduanya seolah-olah suka sama suka sehingga terjadi pemerkosaan. Pada awalnya si wanita tidak merasa diperkosa tetapi setelah ditinggal pergi oleh si laki-laki (tidak bertanggung jawab) barulah si wanita merasa bahwa sebenarnya dia diperkosa.
5.Adanya pengaruh alkohol dan obat-obatan terlarang. Bila suasana kencan dibumbui dengan mengkonsumsi alkohol atau obat-obat terlarang lainnya, maka terjadinya pemerkosaan tidaklah bisa disadari oleh salah satu atau kedua belah pihak.

UPAYA PENCEGAHAN DATING RAPE :
1.Melakukan pacaran yang “sehat”, yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut (Josephine, 2000):
a. Dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan fisik dan mental
b. Menambah semangat hidup dalam banyak hal Terdapat upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah dan berusaha untuk tidak menambah masalah baru.
c.Memungkinkan pengembangan diri kedua belah pihak
e.Memungkinkan koreksi dan perbaikan diri yang disadari penuh
f.Memungkinkan terjadinya kondisi saling memberikan umpan balik yang positif dengan keterbukaan hati dan pikiran.
g.Menjauhkan diri dari perilaku beresiko

2.Mengurangi frekwensi kencan, dan bila harus melakukan kencan si wanita tidak berpenampilan yang merangsang si laki-laki sehingga menimbulkan/ meningkatkan nafsu birahinya, dan berupaya tempat kencan tidak yang terlalu sepi dari keramaian.

3.Tidak mempercayai segala bentuk rayuan dan bujukan oleh pihak laki-laki pada saat kencan, dan diciptakan komunikasi yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang hubungan keduanya, sehingga tidak timbul keinginan si laki-laki untuk memperkosanya.

4.Menghindari berbagai bentuk penggunaan alkohol dan obat-obatan (narkotik) Bila diketahui salah satu pihak telah menggunakannya maka pihak lainnya harus berupaya menghindar darinya sehingga terjadinya pemerkosaan dapat dihindari.

5.Perlu upaya sosialisasi dari pihak-pihak yang berwenang tentang apa, bagaimana dan dampak dari dating rape sekaligus meningkatkan upaya pemahaman dan pelaksanaan ajaran-ajaran agama, sehingga dengan kesadaran sendiri mereka bisa menghindari dating rape, termasuk dalam menerima berbagai kemajuan sistem informasi dan teknologi yang harus selektif.

JATUH CINTA
Faktor kedekatan. Dengan semakin seringnya seseorang berdekatan, akan memperbesar ketertarikan antara satu dengan yang lain.
Faktor keakraban. Keakraban membuka kesempatan bagi seseorang untuk dekat dengan orang yang diinginkan.
Faktor kesamaan. Misal, sama dalam hal usia, ras agama pendidikan, ekonomi, dan ciri psikologi seperti intelegensia.
Faktor daya tarik fisik. Orang lebih terbuka dan cenderung lebih akrab pada orang lain yang memiliki penampilan fisik yang baik.

‘Cinta’ mempunyai rasa yang jelas tapi tidak ada definisi yang jelas
Cinta mempunyai arti majemuk, makna berlapis-lapis, bahkan unsur-unsurnya seolah-olah bisa bertentangan. Contohnya: Pecinta yang tidak cemburu bukanlah pecinta yang sebenarnya. Padahal, cemburu bukanlah sebuah barometer yang dapat dipakai untuk mengukur kedalaman cinta, ia hanyalah mencatat tingkat kecemasan dari si pecinta.

Cinta adalah perasaan terdalam dari lubuk hati kita tentang kasih-sayang
Cinta adalah bunga indah yang bikin hidup lebih hidup
Cinta merupakan anugerah terindah dalam hidup manusia untuk saling mengasihi
Cinta adalah kekuatan yang bisa mengalahkan segalanya
Cinta bisa membuat bahagia, tapi juga sedih luar biasa: tertawa sekaligus menangis.

Antara Cinta dan Pacaran
Sebagian orang menganggap bahwa bila jatuh cinta harus diwujudkan lewat pacaran
Pacaran sebagai wadah untuk saling berbagi kasih
Pacaran diyakini sebagai alat untuk memotivasi banyak hal
Pacaran adalah jalan termudah untuk mengenali pasangan yang dicintainya
Secara umum, pacaran sudah menjadi tradisi di kalangan remaja. Sudah berurat-berakar
Bahkan sekarang ada istilah “pacaran islami”
Jatuh cinta tak mesti pacaran. Cinta itu naluri, tak akan mati bila tidak disalurkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: